gadget

Gadget Untuk Kegiatan Sehari-hari

Pembelajaran online yang berlangsung selama kurang lebih dua tahun akibat pandemi Corona yang melanda ini, memaksa semua orang melek teknologi. Ibu-ibu yang biasanya berkutat dengan urusan dapur, kini dipaksa mengerti teknologi karena harus berhadapan dengan sekolah online putra putrinya yang mewajibkan harus menggunakan Google Class Room, Zoom Meeting dengan guru yang bersangkutan, ataupun hanya sebatas mengumpulkan jawaban dari soal online yang harus dikirim ke WhatsApp guru.

Anak-anak pun harus melek teknologi karena pembelajaran online ini. Disatu sisi, para orang tua merasa bangga karena anak-anak sedari kecil sudah mengerti teknologi. Namun disisi lain merasa miris. Seharusnya anak-anak bisa bebas bermain diluar dengan teman sebaya, kini harus mendekam dirumah dengan gadget dan teman maya.

Banyak dampak negatif dari kebiasan ini. Contohnya mata jadi sakit karena penglihatan hanya seputar gadget untuk waktu lama, hanya untuk melakukan Zoom Meeting dengan guru mata pelajaran, dari pagi sampai siang. Dampak negatif lainnya membentuk pribadi yang pemalu. Mereka terbiasa bebas berexperiment dengan teman mayanya, ketika dihadapkan dengan kehidupan nyata banyak yang tidak bisa mengexpresikan diri mereka sendiri karena malu. Selain itu, anak jadi kecanduan bermain game online. Pada Maret lalu remaja 15 tahun asal Jawa Barat dilaporkan masuk RSJ karena kecanduan gadget. Memang semua kembali ke peran orang tua yang mengharuskan mengawasi anak dengan berbagai situasi dan kondisi dan memberikan pendidikan spiritual kepada anak.

Walaupun terdapat banyak dampak negatif, jika dibina dengan baik, maka akan menjadi dampak positif buat si anak. Misalkan, penggemar game online bisa dibina menjadi bibit eSport player yang semula bermain game sebatas hobi, menjadi professional player (pro player) yang bermental atlet dengan masuk ke Academy eSport yang diselenggarakan oleh Indihome dengan nama Limitless Esport Academy (LEAD). Dampak positif lainnya adalah anak jadi melek Teknologi.

Terlepas dari itu semua, pemilihan gadget pasti perlu diperhitungkan. Gadget harus sesuai dengan budget. Namun buat anak yang dari pagi sampai siang saya menggunakan komputer atau PC Desktop. Layar besar rasanya cukup membuat nyaman buat anak belajar seharian. Setelah anak-anak selesai sekolah bisa saya lanjutkan dengan menulis konten tentang gadget ter-update.

Namun penggunaan PC Desktop juga kadang banyak kendala salah satunya nge-hank. Terkadang saya menyiasati dengan dua gadget untuk backup, yaitu PC Desktop sebagai utama dan smartphone untuk cadangan ketika sewaktu-waktu PC Desktop nge-hank.

Penggunaan smartphone untuk sekolah online yang dari pagi sampai siang memang kurang dianjurkan, karena layarnya yang kecil menyebabkan mata cepat lelah dan baterai yang kecil menyebabkan harus berulang kali di Charge. Namun sekarang banyak smartphone yang menawarkan baterai besar dengan layar besar pula.

Rekomendasi smartphone yang akan digunakan bisa dicari dari Carisinyal.com. Disitus ini saya bisa mencari rekomendasi smartphone yang cocok buat anak. Selain harga murah namun spesifikasi yang ditawarkan harus sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Seperti Vivo Y53s dan Y33S, dikutip dari Carisinyal.com pada September lalu keduanya memiliki persamaan diharga 3 jutaan. Namun memang lebih unggul Y53S karena harga juga lebih tinggi sedikit dibanding Y33S.

Perbedaan hanya di Bluetooth dan fitur fast charging. Y53S menawarkan bluetooth 5.1 yang sedikit lebih baru ketimbang vivo Y33s yang hanya mendukung Bluetooth 5.0. Perbedaannya Bluetooth 5.1 lebih baik dalam menentukan lokasi perangkat Bluetooth karena menggunakan antena lebih untuk menentukan lokasi akurat dan ponsel dapat mengetahui seberapa jauh jarak bluetooth dengan ponsel. Selain itu Bluetooth 5.1 juga mendukung GATT Caching yang dapat mempercepat proses pairing antar dua perangkat

Perbedaan lainnya ada pada fitur fast charging. Pada Vivo Y53S mempunyai fitur fast charging 33 W sedangkan Y33S hanya 18 W. Namun walaupun Y33S kalah dalam dua hal tersebut, namun perangkat ini menawarkan kelebihan yaitu adanya NFC. Kehadiran NFC disuatu ponsel untuk hari ini bisa dibilang penting untuk pengecekan saldo emoney ketika sedang berkendara. Hanya dengan menempelkan kartu dengan belakang perangkat. NFC juga berguna untuk proses transfer file tanpa harus melibatkan bluetooth, jadi prosesnya tidak terlalu lama. NFC juga digunakan untuk membuka pintu apartment atau kantor setelah menyalin kredensial dari kartu ke ponsel.

Setelah diketahui semua plus dan minus dari kedua ponsel tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk memilih Vivo Y33S untuk anak sekolah. Dengan harga Rp 3,4 juta fitur yang ditawarkan adalah future proof yaitu terletak pada NFC. Membeli ponsel tidak hanya digunakan untuk sesaat namun untuk beberapa tahun kedepan. Dengan fitur NFC yang ada pada perangkat, memungkinkan anak bisa memakai untuk beberapa tahun mendatang. Pembayaran apapun bisa menggunakan NFC, kemungkinan uang jajan sekolah pun bisa memakai NFC.

Vivo Y33S

Meskipun Vivo Y53S yang dibanderol dengan harga Rp 3,6 juta menawarkan fast charging 33 W dan bluetooth terbaru, sepertinya untuk anak belum dibutuhkan. Ponsel digunakan juga untuk second opini ketika PC Destktop nge-hank saja selebihnya digunakan saya untuk menulis artikel ketika PC dipakai.

Itulah pengalaman saya dalam memilih ponsel untuk anak dan untuk saya. Pemilihan ponsel yang bijak bisa membawa kenyaman dalam rutinitas sehari-hari.

Share This:

Related Posts